DIALEKSIS.COM | Pidie Jaya - Kondisi pascabanjir besar yang melanda Kabupaten Pidie Jaya memasuki situasi yang semakin kritis. Warga di Kecamatan Meurah Dua mengaku sudah tiga hari bertahan tanpa makanan dan air bersih akibat seluruh akses terputus dan pasokan logistik tidak pernah sampai.
Vannur (32), warga Meurah Dua, ketika dihubungi Dialeksis, menggambarkan kondisi kampungnya sebagai situasi yang “benar-benar lumpuh total”. Menurutnya, hampir seluruh fasilitas dasar tidak lagi bisa digunakan, termasuk sumber air warga.
“Sudah tiga hari kami tidak makan dan tidak minum. Sumur-sumur semua kesumbat lumpur, tidak bisa dipakai sama sekali. Masyarakat benar-benar kelangkaan air dan makanan,” ujar Vannur bercerita kepada Dialeksis, Sabtu 29 November 2025.
Ia menyebutkan, bencana yang melanda Pesisir Pantai Timur Aceh kali ini jauh lebih parah dari yang pernah terjadi sebelumnya. Akses jalan terputus, listrik padam total, dan jaringan internet hilang sejak hari pertama banjir melanda.
“Lokasi banjir tidak bisa diakses. Lumpur di mana-mana, tidak ada listrik, tidak ada internet. Orang-orang tidak bisa mengabari kondisi mereka. Saya terpaksa berjalan ke kecamatan lain hanya untuk cari sinyal dan sampaikan keadaan,” jelasnya.
Situasi hunian warga juga tidak kalah memprihatinkan. Hampir seluruh rumah penduduk rusak berat.
“Rumah 90 persen tidak layak ditempati lagi. Rata-rata penuh lumpur sampai setengah bangunan. Orang-orang tidak punya tempat tinggal. Mau mengungsi pun tidak ada tempat,” kata Vannur.
Ia menegaskan bahwa seluruh desa di Kecamatan Meurah Dua terdampak parah dan kini benar-benar lumpuh total. Masyarakat mengalami kelangkaan air bersih, makanan, serta pakaian layak pakai.
“Jangankan air minum, air sumur saja tidak ada. Semuanya lumpur,” tuturnya.
Melihat skala kerusakan dan penderitaan warga, Vannur berharap pemerintah segera menetapkan status bencana nasional agar bantuan dan penanganan darurat dapat dipercepat.
“Seharusnya ini sudah jadi bencana nasional. Kami butuh bantuan cepat,” pungkasnya.