Sabtu, 29 November 2025
Beranda / Analisis / Ketika Siklon Langka Bertemu Hutan Gundul

Ketika Siklon Langka Bertemu Hutan Gundul

Sabtu, 29 November 2025 10:00 WIB

Font: Ukuran: - +

Reporter : Nurdin Hasan

Nurdin Hasan | Freelance Journalist. Foto: doc Dialeksis


DIALEKSIS.COM | Analisis - Banjir. Kata ini seolah menjadi lagu wajib di Aceh, setiap musim penghujan tiba. Air bah datang. Harta benda hilang. Kali ini, puluhan korban jiwa melayang. Aktivitas lumpuh. Setelah air surut, akankah kita hanya menunggu musim berikutnya? Ini bukan lagi bencana alam murni. Ini adalah bencana tata kelola.

Kali ini kisahnya sedikit berbeda. Ia bukan sekadar banjir musiman biasa. Ini bencana sempurna disebabkan oleh perpaduan maut. Fenomena alam langka dan kerusakan lingkungan yang parah.

Sejak hari Senin hingga Kamis, kita menyaksikan hujan turun dengan intensitas tak wajar. Bukan hujan lebat, tapi ekstrem. Penyebabnya, menurut Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), adalah Siklon Tropis Senyar.

Fenomena ini merupakan anomali. Siklon tropis amat jarang terbentuk di Selat Malaka. Wilayah dekat khatulistiwa secara teori kurang mendukung pembentukan siklon. Namun, Senyar muncul. Ia menjadi bukti nyata bahwa anomali iklim global kian mendekat ke Indonesia.

Kehadiran Senyar ini bertindak sebagai pemompa uap air raksasa. Ia menyedot kelembapan dan menuangkannya sebagai hujan sangat lebat hingga ekstrem di Aceh serta Sumatra bagian Utara hingga Barat. Curah hujan selama empat hari itu mencatat angka jauh di atas batas normal. Inilah pemicu langsung bencana hidrometeorologi yang terjadi.

Tapi, curah hujan ekstrem saja tak serta-merta harus memicu bencana bandang yang mematikan. Para aktivis lingkungan dan akademisi sepakat bahwa hujan lebat memang pemicu, namun hutan gundul adalah penyebab utamanya.

Seharusnya, hutan di perbukitan Aceh menjadi benteng pertahanan alam. Kita tahu, akar pohon besar berfungsi seperti jangkar. Ia mengikat tanah. Lapisannya bagai spons raksasa. Serasah di lantai hutan menahan laju air. Ia menyerap dan menahan air, lalu melepaskannya secara perlahan ke sungai.

 Sayangnya, benteng itu sudah lama dibobol. Menurut catatan Walhi Aceh, aktivitas pembalakan liar (illegal logging), deforestasi, ekspansi perkebunan sawit dan tambang telah mencukur habis sebagian hutan lindung dan kawasan resapan.Ketika hutan ditebang, fungsi spons itu hilang. Air hujan langsung meluncur ke sungai. 

 Saat tropical cyclone Senyar mengirimkan curah hujan yang banyak, air bertemu dengan lahan sawit yang akarnya dangkal. Tentu saja, air tidak tertahan, karena kemampuannya membendung dan menyerap air jauh di bawah pohon hutan. Air langsung meluncur deras ke hilir, membawa tanah. Terjadilah erosi. Sungai pun tak mampu menampung, sehingga meluap.

Korporasi perkebunan sawit boleh jadi memiliki izin yang resmi (legal). Tapi, izin itu seringkali diterbitkan di atas kawasan yang secara ekologis rapuh. Ini bukan lagi kejahatan individu, namun bentuk kriminalitas kebijakan. Negara sepertinya mengizinkan kerusakan terjadi dengan alasan pertumbuhan ekonomi jangka pendek.

Siklon tropis Senyar memang pemicu alam dan sebuah anomali iklim, sehingga menyebabkan hujan ekstrem. Tapi, deforestasi terjadi akibat kelalaian tata kelola. Begitu juga tata ruang sungai yang buruk karena membuat pemukiman dan infrastruktur rentan.

Akibatnya, air tidak lagi hanya menggenang. Ia datang sebagai banjir bandang yang membawa lumpur tebal dan batang-batang kayu besar. Batang-batang kayu gelondongan yang menumpuk itu adalah bukti bisu kehancuran di hulu.

Jika hutan masih utuh, air seberat apa pun akan diserap dan ditahan. Alam akan bekerja dengan caranya sendiri. Jika alih fungsi lahan sawit tidak masif, erosi tanah bisa diminimalisir. 

Jadi, banjir di Aceh bukan takdir Ilahi. Ini adalah konsekuensi dari kelalaian kolektif. Kelalaian negara dalam menjaga hutan. Kelalaian aparat dalam menindak para pembalak liar. Kelalaian pemerintah dalam menerbitkan izin yang merusak.

 Para korban banjir di Aceh adalah rakyat kecil yang tinggal di hilir. Mereka menderita akibat hujan ekstrem yang dibawa siklon langka. Namun, penderitaan mereka diperparah berkali-kali lipat oleh kebijakan merusak hutan yang dibuat di kantor-kantor ruangan ber-AC.

Saat bencana terjadi, pemerintah sibuk. Mereka sibuk mengirim bantuan, makanan instan, dan selimut. Mereka sibuk menjadi petugas pemadam kebakaran. Sepertinya, pemerintah lebih fokus pada respons bencana, padahal masalah utamanya adalah pada pencegahan dan pengendalian izin di hulu.

Sampai kapan rakyat harus menanggung derita yang terjadi hampir setiap tahun? Sampai kapan alam harus menanggung beban keserakahan yang dilegalkan? Siklon tropis dari Selat Malaka itu memang peringatan alam. Tetapi, banjir bandang adalah hukuman alam. Dan, kehancuran hutan adalah dosa kita semua.

Solusinya sederhana asalkan benar-benar dilaksanakan. Pertama, cabut semua izin yang merusak lingkungan. Hukum pelaku illegal logging, tanpa pandang bulu. Lakukan reboisasi secara serius. Dan, yang paling penting adalah jangan lagi ada kompromi antara pembangunan dan kelestarian alam, karena nyawa rakyat Aceh taruhannya.  

Akhirnya, mari kita renungkan Surat Ar-Rūm ayat 41, yang artinya, ”Telah tampak kerusakan di darat dan laut disebabkan perbuatan tangan manusia. (Melalui hal itu), Allah membuat mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” []

Penulis: Nurdin Hasan | Freelance Journalist

Keyword:


Editor :
Redaksi

riset-JSI