Dialeksis - Akurat, Tajam, dan Strategis
Beranda / Parlemen Kita / Laporan Kunker Pansus Dapil I DPRA (Bagian 2)

Laporan Kunker Pansus Dapil I DPRA (Bagian 2)

Minggu, 15 Juli 2018 01:36 WIB


Tim Pansus I DPR Aceh  meninjau pekerjaan Pembangunan Lanscape dan Insfrastruktur Mesjid Raya Baiturrahman Banda Aceh ( Multi Years Contract) (OA)

DIALEKSIS.COM| Banda Aceh-  Panitia Khusus (Pansus) DPR Aceh Tahun 2018 telah melakukan Kunjungan Kerja (Kunker)  ke Wilayah Daerah Pemilihannya.
Tim Pansus turun  berdasarkan Surat Keputusan Pimpinan Dewan Perwakilan Rakyat Aceh Nomor 26 / PMP/ DPRA / 2018 tanggal 25 Mei 2018, tentang Pembentukan Panitia Khusus Daerah Pemilihan DPR Aceh Tahun 2018 terhadap Laporan Hasil Pemeriksaan Badan Pemeriksa Keuangan Republik Indonesia dari tanggal 27 Mai s/d 02 Juni 2018.

Sasaran kerja Pansus Dapil  I Tahun 2018 DPR Aceh terfokus pada seluruh realisasi kegiatan atau program Pemerintah Aceh yang sumber dananya dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Aceh (APBA) Tahun Anggaran 2017. Pansus DP I telah melakukan peninjauan terhadap beberapa pekerjaan yang tersebar di berbagai tempat yang termasuk dalam Dapil I yaitu  Kota Banda Aceh, Aceh Besar dan Kota Sabang

Dialeksis akan menyajikan Laporan Hasil Kunker Pansus DPRA Dapil I dalam beberapa bagian.

Berikut Hasil Kunjungan Kerja PANSUS DPRA Dapil I ke Dinas Pekerjaan Umum Dan Penataan Ruang, Dinas Pendidikan Aceh, Dinas Energi Dan Sumber Daya Mineral, dan  Dinas Perindustrian Dan Perdagangan

DINAS PEKERJAAN UMUM DAN PENATAAN RUANG

1.    Pengaspalan Jalan Komplek Gubernur Aceh
Hasil akhir fungsional berupa Aspal Hotmix AC-WC panjang efektif 1,2 KM dengan nilai kontrak Rp. 1.961.998.000,- bersumber dari Otsus Aceh.

2.    Pengaspalan Jalan Halaman Parkir Rumah Sakit KODAM Banda Aceh.
Hasil akhir fungsional berupa Aspal Hotmix AC-BC panjang efektif 621 M dengan nilai kontrak Rp. 1.962.471.000,- bersumber dari Otsus Aceh.

3.    Pengaspalan Jalan Komplek Kantor MAPOLDA Aceh, Banda Aceh.

Hasil akhir fungsional berupa jalan Hotmix AC-BC 2,4 Km x 3-6 meter dengan nilai kontrak Rp. 4.922.698.000,- dan sesuai dengan spesifikasi.

Tim Pansus melihat masih banyak jalan diseluruh Aceh yang butuh dibangun, jadi bukan hanya setiap tahunnya anggaran bertumpuk untuk pengaspalan kantor-kantor/dinas di Banda Aceh. Sebagai contoh Pemerintah Aceh juga perlu memperhatikan jalan menuju Badara SIM Blang Bintang yang sudah satu tahun kerusakannya tidak ditangani, contoh lainya jalan Lampeneurut – Peukan Bilui sudah tidak layak lagi karena badan jalan terlalu sempit, kecelakaan bagitu banyak dan perumahan tumbuh begitu cepat.

4.    Peningkatan Jalan Simpang Tungkop-Lambitra-Simpang Cot Paya
Hasil akhir Fungsional berupa jalan Hotmix AC-BC 1,3 Km x 6 meter, dengan nilai kontrak Rp.2.949.001.000,- sumber dana Otsus Aceh, tim menilai hasil pekerjaan standar, dengan adanya peningkatan jalan tersebut maka akses masyarakat yang sebelumnya sangat terganggu dengan keberadaan beberapa pohon asam jawa di badan jalan serta penuh lubang yang telah banyak memakan korban sudah teratasi, Tim Pansus juga menerima laporan dari masyarakat agar pada ruas jalan tersebut dipasang lampu jalan.

5.    Pemeliharaan Berkala Jalan Limpok – Cot Iri, Kab. Aceh Besar
Kegiatan pemeliharaan jalan Limpok – Cot Iri dengan hasil akhir berupa jalan Hotmix AC-BC sepanjang 2,3 Km x 3,4 meter dengan nilai kontrak Rp. 2.943.599.000,- sumber dana dari Otsus Aceh. Pemeliharaan akses jalan ini berkaitan dengan acara PENAS yang telah sukses digelar. Jalur ini menjadi salah satu jalur alternative untuk mengurai kemacetan kendaraan yang akan menuju kota Banda Aceh maupun sebaliknya.

6.    Pemeliharaan Berkala Jalan Simpang Mata Ie – Cot Goh Kab. Aceh Besar.

Pemeliharaan berkala jalan Simpang Mata Ie - Cot Goh kecamatan Montasik Kabupaten Aceh Besar dengan hasil akhir fungsional jalan Hotmix AC-BC 1,3 Km X 6 Meter, nilai kontak Rp. 3.900.021.000,- sumber dana Otsus Aceh, menurut laporan masyarakat, pemeliharaan jalan tersebut perlu dituntaskan sepanjang kurang lebih 800 meter lagi, mengingat kondisi jalan yang tidak tersentuh pemeliharaan Tahun Anggaran 2017 kini bertambah parah, dimana sepanjang jalan tersebut terdapat lubang yang setiap saat akan mendatangkan maut bagi pengguna jalan, terlebih pada saat musim hujan, bahkan menurut laporan masyarakat mereka berencana akan menanam batang pisang pada setiap lubang sebagai tanda peringatan untuk berhati-hati bagi pengguna jalan tersebut. Tim Pansus berharap agar pemeliharaan jalan Simpang Mata Ie- Cot Goh kecamatan Montasik kabupaten Aceh Besar perlu dituntaskan mengingat akses jalan tersebut sangat penting bagi masyarakat.

7.    Pembangunan Jembatan Lamreung – Limpok, Kabupaten Aceh Besar.
Pembangunan Jembatan ini telah berlangsung dalam beberapa tahun dengan nilai kontrak terbatas dan bertahap setiap tahunnya sehingga hanya dapat membangun abodemen dan beberapa pilar, untuk tahun 2017 hanya berupa pekerjaan lanjutan pembangunan jembatan komposit 279 meter x 6 meter atau hanya tiga pilar terakhir dengan nilai kontrak Rp. 4.415.369.000.-. Tim Pansus berharap untuk tahun ini pembangunan jembatan tersebut dapat selesai sehingga memudahkan akses masyarakat tanpa harus memutar melalui jembatan Darussalam atau Jembatan Cot iri dan jembatan Lamreung-Limpok menjadi pengurai kemacetan di kampus Darussalam. Tim Pansus meminta jembatan ini wajib diprioritaskan untuk selesai dan pembangunannya jangan cilet-cilet.

Dalam kesempatan yang baik ini juga Tim Pansus meminta agar dibangun jembatan dikawasan Tugu Jeumpa, pertimbangannya untuk memudahkan dan menghindari kemacetan mengingat volume kendaraan semakin tinggi memasuki gerbang kota Banda Aceh.


DINAS PERUMAHAN RAKYAT DAN KAWASAN PERMUKIMAN ACEH.

1.    Pembangunan Rumah Layak Huni untuk Masyarakat.
Adanya laporan masyarakat tentang kualitas fisik pembangunan rumah layak huni di Aceh yang kualitasnya tidak sesuai harapan, padahal dari segi anggaran sudah melebihi mencukupi untuk sebuah rumah layak huni, sebagai contoh rombongan Pansus I mengunjungi Desa Lam Neuhuen Kecamatan Kuta Baro, Aceh Besar mendapati dua rumah yang masih belum layak untuk dihuni yaitu rumah atas nama Ibu Ramlah sudah selesai dengan kualitas seadanya namun belum ada sumur septictank sehingga pipa pembuangan WC menjular ke lahan milik tetangganya, lain lagi dengan rumah atas nama bapak Muslem masih di desa yang sama rumahnya belum memiliki instalasi listrik, kusen jendela dan pintu serta fentilasi seadanya sehingga kedua rumah ini belum bisa di tempati.

Perlu diketahui bersama, masyarakat dhuafa yang menerima rumah tersebut tidak mampu mengeluarkan biaya tambahan untuk merehap rumah yang diterimanya. Tim Pansus I berharap agar ke depan tim PHO harus professional pada saat melakukan PHO, bila tidak demikian program rumah layak huni di Aceh yang seharusnya memang layak huni menjadi tidak layak huni dikarenakan kualitas dan pekerjaan yang tidak baik.

2.    Pembangunan Jalan Kawasan Industri Ladong
Pembangunan jalan kawasan industri Ladong terletak di desa Ladong Kecamatan Masjid Raya, Kabupaten Aceh Besar, hasil akhir berupa jalan perkerasan 1.656,5 X 8 Meter dengan nilai kontrak Rp. 1.629.075.000.-



DINAS PENDIDIKAN ACEH


1.    Pembangunan RKB SMAN Modal Bangsa Kabupaten Aceh Besar.
Pembangunan dua lantai RKB SMAN Modal Bangsa yang terletak di Kabupaten Aceh Besar dengan nilai kontrak Rp. 1.995.059.000,- dari hasil pengamatan tim Pansus I, bangunan lantai pertama tersebut telah difungsikan untuk ruang belajar siswa, namun terkesan dipaksakan pembangunannya yaitu pada kegiatan pemasangan plafon, menurut amatan tim Pansus seharusnya plafon ditunda terlebih dahulu kerena bangunan lantai dua belum selesai dan akan berakibat merembesnya air hujan dari dak beton dan mengakibatkan plafon yang berbahan gipsum di bawahnya rusak sehingga tidak indah untuk dipandang.

Selanjutnya tim juga menemukan bahwa dinding terlihat retak halus, kusen pintu dan jendela tidak rapi dalam pengecatan, keramik pada teras bergelombang, elevasi teras dan halaman gedung terlihat hampir sejajar dan dikhawatirkan air yang tergenang di halaman akan masuk ke teras dan ruang belajar. Dari hasil pertemuan dengan Kepala sekolah, SMAN Model Bangsa memerlukan percepatan pembangunan dari sisa gedung RKB belum selesai dan penambahan satu unit lagi gedung RKB dua lantai untuk kegiatan belajar siswa.


2.    SMKN Penerbangan Aceh.


1. Pembangunan RKB (2 lantai) SMKN Penerbangan Aceh
Pembangunan RKB (2 lantai) SMKN Penerbangan Aceh dengan nilai kontrak Rp. 3.597.600.000,- Tim Pansus menemukan ada beberapa pintu dilantai dua telah rusak, namun secara keseluruhan khusus RKB ini sudah relatif standar dalam pembangunannya.

2. Pembangunan asrama siswa (bertingkat) SMKN Penerbangan Aceh.
Pembangunan asrama siswa SMKN Penerbangan Aceh dengan nilai kontrak Rp. 4.407.835.000.- Tim Pansus menemukan kualitas pekerjaan yang tidak rapi seperti cat dinding yang terkelupas dan berbekas ditangan bila disentuh, daun pintu dan jendela berkualitas rendah, ralling tangga tidak kokoh, lantai keramik pada teras masuk banyak yang sudah bolong/pecah, air septictank meluap dan menggenangi area halaman depan, sungguh disayangkan melihat kondisi asrama anak didik yang terlihat jorok dan tidak tertata dengan baik.

3. Pembangunan rumah guru SMKN Penerbangan Aceh


Pembangunan rumah guru SMKN Penerbangan Aceh dengan nilai kontrak Rp. 4.424.662.000,- Tim Pansus juga menemukan dalam pengecatan kusen dan jendela tidak rapi dan ada beberapa jendela dilantai dua bagian bawahnya tidak terkena cat sehingga perlu diulang kembali pekerjaan pengecatan tersebut.
Tim Pansus menyayangkan mengapa ULP harus selalu memenangkan rekanan yang sama, pada hal mutu pekerjaan sangat di bawah standar, sangat memprihatinkan konsisi SMKN tersebut layaknya sebuah kandang lembu dan operasionalisasi SMKN tersebut sangat tidak profesional. Khusus mengenai keberadaan SMK Penerbangan Aceh, Tim Pansus I DPR Aceh meminta kepada Gubernur Aceh untuk meninjau ke lokasi agar melihat bagaimana kualitas pembanggunan sekolah SMKN penerbangan Aceh yang sudah bertahun-tahun tidak ada perubahan padahal sudah banyak biaya dan waktu yang telah habis untuk pembangunan sekolah kebanggaan ini.


DINAS ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL


1. Pemasangan Lampu Penerangan Jalan Umum.
Pemasangan Lampu Penerangan Jalan Umum ornamen LED di jalan Lambaro- Bandara Internasional SIM Kabupaten Aceh Besar terbagi dalam lima paket item pekerjaan, sumber dana dari Otsus Aceh, Paket pekerjaan pertama lampu ornament LED Kwh meter 66 unit dan tiang lampu 33 unit dengan nilai kontrak Rp. 1.143.979.000,- Paket pekerjaan kedua lampu ornament LED Kwh meter 80 unit dan tiang lampu 40 unit dengan nilai kontrak Rp. 1.325.449.000-, paket ketiga lampu ornament LED Kwh meter 76 unit dan tiang lampu 38 unit dengan nilai kontrak Rp. 1.288.631.000,- paket ke empat lampu ornament LED Kwh meter 70 unit dan tiang lampu 35 unit dengan nilai kontrak Rp. 1.194.019.000.- Paket kelima lampu ornamen LED Kwh meter 66 unit dan tiang lampu 33 unit dengan nilai kontrak Rp. 1.120.545.000.- menurut pengamatan yang dilakukan malam hari oleh tim Pansus, kelima paket pekerjaan tersebut berfungsi untuk, menerangi jalan Lambaro-Bandara Internasional SIM.

DINAS PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN
1. Konstruksi Fisik Rehab Berat Kantor Dinas
Hasil akhir funsional berupa pengecatan gedung, rehap plafon, rehab toilet, pergantian karpet ruang Kadis dengan nilai kontrak Rp. 1.362.762.000,- dari pengamatan Tim Pansus plafon yang direhap masih terlihat bekas rembesan air pada sisi teras belakang kantor sehingga warna plafon menghitam, kebocoran juga terlihat pada selasar lantai dua sehingga menyebabkan plafon gembung dan cat terkelupas, pengerjaan finishing cat antara plafon dan dinding tidak rapi. Tim pansus meyarankan agar pelaksana memperbaiki kembali pekerjaannya, seharusnya pekerjaan rehap plafon harus memperhatikan kondisi atap, apakah bocor atau tidak agar pekerjaan tidak sia-sia. Perencanaan dan pengawasan yang baik akan menentukan nilai akhir dari sebuah proyek/kegiatan, sehingga tidak memboroskan anggaran karena pekerjaan yang berulang.

2. Pembangunan Gedung Pabrik Industri Kulit di Ladong.
Tim Pansus mendapat laporan dari masyarakat terkait gedung Pabrik Industri Kulit di Ladong (kawasan Industri Aceh Besar). Pembangunannya selesai pada Tahun Anggaran 2014 dan pada Tahun Anggaran 2015 pernah dialokasikan dana rehab, hal ini terjadi karena gedung tersebut belum difungsikan dan tidak ada perawatan dari dinas terkait, sehingga kondisinya semakin memprihatinkan, mesin-mesin pengolah kulit yang harganya mencapai milyaran rupiah akan menjadi besi tua. Tim Pansus mendesak Dinas terkait untuk segera mengambil langkah-langkah untuk menghidupkan pabrik industri kulit dimaksud.

Editor :
HARISS Z

Komentar Anda