Dialeksis - Akurat, Tajam, dan Strategis
Beranda / Berita / Dunia / Mantan Atlet Kriket Favorit Menangi Pemilu PM Pakistan 2018

Mantan Atlet Kriket Favorit Menangi Pemilu PM Pakistan 2018

Jum`at, 20 Juli 2018 11:34 WIB


DIALEKSIS.COM I Shangla - Imran Khan, mantan atlit olahraga kriket ternama Pakistan, berada di garis terdepan dalam pemilihan perdana menteri Pakistan pada 25 Juli mendatang. Namun, nama baik Khan dirusak oleh persepsi dan tuduhan yang tersebar luas bahwa terdapat ikut campur militer yang kuat dalam proses demokrasi atas namanya, supaya Partai Khan, Tehreek-e-Insaf (PTI) Pakistan menang.

Saat ini Imran Khan tengah rajin-rajinnya melakukan perjalanan ke berbagai daerah di Pakistan setiap harinya untuk mengadakan rapat umum pemilu sambil menggalang dukungan bagi Partai Tehreek-e-Insaf (PTI) Pakistan. Alumni Oxford University yang kini telah berusia 65 tahun ini, berusaha menggalang menarik massa dukungan sebanyaknya, umumnya pemuda Pakistan yang berpendidikan.

Hasil survei terbaru menempatkan PTI sedikit unggul atau tepat di belakang saingan utamanya, partai Liga Muslim Pakistan-Nawaz (PML-N) pimpinan perdana menteri tersingkir karena kasus korupsi, Nawaz Sharif. Dan partai Khan ini unggul jauh di depan Partai Rakyat Pakistan (PPP), yang pernah menjadi kekuatan tangguh politik nasional.

Dalam kampanyenya, Khan berjanji akan menindak segala bentuk korupsi dalam pemerintahan, menerapkan program anti-kemiskinan, memperbaiki kesehatan dan pendidikan, dan menjadikan Pakistan sebagai negara Islam yang sejahtera.

Nawaz Sharif selaku saingan terberat Khan menuduh Khan telah berkolusi dengan militer dalam memaksakan pengadilan kasus-kasus korupsi "bermotif politik" untuk menjatuhkan saingan politiknya. Tentu saja Khan menyangkal itu dan menuding Sharif melakukan kampanye propaganda menentangnya.

Para pejabat militer juga iku membantah telah mencampuri proses demokrasi, dan menyatakan berusaha mendukung penyelenggara sipil untuk mengadakan pemilu yang "bebas dan adil" dalam lingkungan yang aman.

Sementara itu, salah seorang pemantau independen menyatakan prihatin atas adanya dugaan "rekayasa politik" oleh militer tersebut. "Ini pemilu paling sengit dalam sejarah kita, sekaligus ini juga pemilu paling kotor. Kami sangat ragu pemilu akan bebas dan adil." Ungkap I.A Rehman pada komisi HAM Pakistan.

Meskipun ada tuduhan terhadap militer Pakistan yang membantunya, kampanye anti-korupsi Khan tampaknya disambut luas oleh banyak pihak, terutama oleh kalangan muda Pakistan yang menuntut adanya perubahan. (VOA)


Editor :
Sadam

universitas teuku umar
Komentar Anda