DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Ketua Sekretariat Posko Darurat Pemerintah Aceh, Nasir Syamaun mengatakan data sementara Posko Utama Penanganan Darurat Bencana Pemerintah Aceh mencatat 70 orang meninggal dunia dan 54 warga masih hilang hingga Sabtu malam (29/11/2025).
Sebanyak 18 kabupaten/kota terdampak langsung, sementara wilayah lainnya ikut terkena imbas banjir dan longsor yang terjadi sepekan lalu.
“Ini bencana terbesar dalam beberapa tahun terakhir. Hampir seluruh Aceh terdampak. Kita sedang bekerja siang dan malam untuk memastikan keselamatan masyarakat, terutama yang masih terisolasi,” ujar Ketua Sekretariat Posko Darurat Pemerintah Aceh, Nasir Syamaun, yang juga menjabat sebagai Sekretaris Daerah (Sekda) Aceh, saat memberikan keterangan resmi dari Posko Utama Penanganan Bencana di Banda Aceh, Sabtu malam.
Bencana yang dipicu cuaca ekstrem itu membuat 240 kecamatan terdampak langsung. Tercatat 87.550 kepala keluarga (KK) atau 441.788 jiwa terkena dampak banjir dan longsor.
Adapun jumlah warga yang harus meninggalkan rumah terus bertambah. Hingga malam ini, tercatat 52.162 KK, 199.477 jiwa dan ada 184 titik pengungsian.
"Terutama di Aceh Utara dan Aceh Timur yang hingga kini masih terendam, mungkin jumlah ini akan bertambah malam ini. Ini situasi darurat kemanusiaan,” kata Nasir.
Menurut Nasir Syamaun, operasi evakuasi telah mencapai 90 persen. “Tinggal 10 persen masyarakat yang masih tertahan di lokasi-lokasi terisolasi. Basarnas dan semua tim gabungan sedang menyelesaikan evakuasi sisa warga kita,” ungkapnya.
Pemerintah Aceh terus berkoordinasi dengan BNPB, TNI, Polri, Kementerian Perhubungan, dan pemerintah pusat.
“Kami berkomitmen menyelesaikan evakuasi, menjamin distribusi logistik, dan memulihkan konektivitas antarwilayah hingga normal kembali,” tegas Nasir.
Di tengah situasi sulit, solidaritas masyarakat, relawan, dan lembaga kemanusiaan terus mengalir. “Aceh pernah melalui masa-masa sangat berat, dari tsunami hingga konflik. Kita pasti bangkit lagi. Yang penting sekarang, selamatkan manusia, pastikan pangan, dan buka akses," tutup Nasir Syamaun. [nh]